Petualangan Berbagi Istri

 

CERSEX MASTER – Aku bernama Madi, umur 43 tahun, memiliki sahabat bernama Triadi. Dia sahabatku sejak SMA. Sampai sekarang kami masih bersahabat. Kami masing masing sudah memiliki istri dan anak. Istrinya bernama Mirna, sedangka istriku bernama Juni. Kami dan para istri kami sangat akrab. Selalu rutin kumpul, kalau tidak di rumahnya ya di rumahku. Anakku dan anaknya saat ini sedang kuliah di luar kota, jadi terkadang istrinya menginap di rumahku atau sebaliknya.

Saking akrabnya, ketika bergurau terkadang Triadi bisa memeluk istriku dan menyentuh wajahnya. Bahkan pernah sekali kudapati tubuh istriku dicoleknya di dapur. Istriku hanya ngedumel pura-pura marah. Sebagai lelaki ada sedikit rasa cemburu muncul, tapi karena dia sahabatku, kaubaikan saja, toh aku juga akhirnya melakukan hal yang sama kepada istrinya.

Sekian lama hal tak lazim ini terjadi, namun kami tidak pernah berbuat terlalu jauh. Sampai suatu hari terjadi ketika liburan di Villa, kisah ini bermulai.

Pada hari Sabtu, kami berempat menghabiskan akhir pekan di puncak. Walau tidak mewah, villa ini nyaman dan bersih. Sebulan sekali kami singgah di villa ini untuk berlibur. Terkadang hanya aku dan istriku, terkadang dengan famili lain, namun kali ini dengan sahabatku dan istrinya.

Tidak ada yang luar biasa dalam liburan kami, Seperti biasa makan siang dipinggir jalan. Setelah itu membeli bahan masakan untuk nanti malam.

Sesampai di villa sekitar jam 3 sore, kami istirahat, sampai akhirnya dibangunkan oleh Juni untuk makan malam. Kami nikmati makan malam dengan pepes ikan, dan telur balado.

Seusai makan kami berkumpul menonton TV sambil ngobrol. Triadi berinisiatif mengeluarkan kasur dari kamar dan direbahkan di depan TV. Mirna juga ke kamar mengganti pakaian dengan baju tidur tipis tanpa bra dan celana dalam. Nampak olehku bayangan tubuhnya. Mereka berdua kemudian telentang di kasur sambil menonton TV.

Triadi acuh saja melihat setelan istrinya. Aku dan istriku ikut telentang juga. Aku ambil posisi terluar disebelah istriku, dan istriku bersebelahan dengan Mirna. Aku tidak konsen menonton TV, mataku terus mencuri pandang ke tubuh Mirna, membuat si Joni menegang.

“Pa, putar bokep dong. Mama pingin Nonton,” ujar Mirna.
“Jun, kami putar film panas ya,” Triadi meminta izin.
“Terserah aja.”
Triadi pun memutar film dewasa. Kami memang sering menukar film porno, tapi tidak pernah nonton bersama.

Film yang diputar lumayan bagus dengan latar belakang zaman perang. Adengannya tidak terlalu vulgar, membuat nafsuku bangkit. Sarung yang kupakai menyenbul sedikit dari dalam. Istriku bersandar di lenganku, memilin-milin ibu jariku. Sudah kutahu, istriku juga terangsang.

Triadi menyimak film sambil memeluk istrinya. Tangannya mengusap dada Mirna dari luar. Sesekali dilumat bibir istrinya. Kaki Mirna menekuk, mengangkat baju tidurnya. Nampak olehku pemandangan pahanya yang mulus.

Dengan curi pandang ke arah Mirna, aku mulai bercumbu dengan istriku. Tanganku masuk ke blouse Juni yang tanpa bra dan bermain dengan dadanya. Tangan Juni masuk ke sarung mengelus-elus penisku. Sedikit malu-malu Juni menutup dadanya dengan bantal agar tidak nampak oleh mereka.

Mirna melepas semua pakaiannya dan juga pakaian suaminya. Triadi bergeser ke tengah, dan istrinya menindih suaminya. Kini Triadi dan Juni berdampingan. Istriku melirik mereka dengan nafsu, ikut tenggelam ke dalam permainan mereka.

Secara tiba-tiba Mirna meraih blouse istriku dan melepas kancingnya. Istriku mau protes, tapi dengan cuek dibiarkannya juga. Triadi semakin bergeser mendekat ke istriku. Lengannya lengket ke ke tubuh istriku, dan menyenggol pinggir payudaranya.

Aku tak berpikir yang aneh-aneh. Melihat tubuh Mirna membuat nafsu memenuhi benakku. Kulepaskan seluruh pakaianku. Kini kami berempat sudah telanjang. Kucium istriku sambil megelus vaginanya. Istriku mendesah kecil, tangan kanannya merangkulku, dan tangan kirinya tertindih oleh tangan Triadi.

Satu tangan lagi tiba-tiba mengelus buah pelerku. Itu tangan Mirna. Sambil mencium dada suaminya, dia mengelus batang rudalku. Triadi cuek saja, bahkan lengannya sudah menindih payudara istriku. Istriku entah tidak tahu atau membiarkan saja.

Mirna mengubah posisi dengan duduk di selangkangan Triadi. Penis suaminya digesek-gesekkan ke klitorisnya. Kini tangan Triadi telah berpindah ke dada istrinya. Istriku memasang mata sayu dengan paha terenggang. Penisku dituntunnya masuk ke lubang memeknya. Kugenjot secara perlahan. Istriku keenakan.

Mirna rebahan diatas tubuh suaminya. Pantatnya naik turun memainkan penis suaminya yang telah menancap ke vaginanya. Terkadang tangan Mirna meremas pantatku. Istriku tidak protes. Triadi yang hanya beberapa inci dari Juni menciumi istriku, walau tidak mendapat respon. Aku tidak cemburu, malah semakin terangsang. Istriku mendengus tak karuan.

Gairah istriku semakin membara, kini ia membalas lumatan Triadi. Pinggulnya naik ke atas, mencapai orgaseme, terkulai lemas. Kucabut penisku, kubiarkan istriku istirahat sejenak.

Melihat penisku nganggur, Mirna datang menghampiri. Penisku dibersihkan dengan baju tidur. Dia menimpaku dan dengan ganas menciumiku. Kulirik Triadi, dirinya tidak komplain, begitu juga istriku.

Mendapat lampu hijau kulumat bibir Mirna. Tangan kiriku bermain di bokongnya, dan tangan kanan meremas dadanya. Kami saling bergulat lidah, memeknya yang basah bergesekan dengan penisku. Mirna yang terangsang menghentikan ciuman. Dia mengambil posisi duduk di atas pahaku.

Belahan vaginanya menantang. Langsung kuarahkan masuk. Mirna mengerti, dituntunnya masuk ke lubang senggamanya. Mirna mendesah nikmat. Kugenjot Mirna dari posisi itu. Dia merespon dengan memutar pinggulnya, menimbulkan kenikmatan luar biasa di batangku.

15 menit berlalu, Mirna mempercepat pinggulnya. Kami berciuman kembali. Nafasnya memburu, orgasmenya hampir sampai. Kudekap bokongnya agar penisku masuk lebih dalam. Mirna mengerang , orgasemenya sampai. Aku yang hampir keluar terus melakukan genjotan. “Ahhhhh.” Aku sampai. Spermaku berterbaran di dalam vaginanya.

Mirna terkulai lemas di atas badanku. Kulihat Juni sedang bercumbu dengan Triadi. Juni ditindih oleh Triadi, mereka saling berciuman dalam-dalam. Tangannya meremas buah dada Juni, tangan Juni membalas dengan meremas pantat Triadi.

Triadi menggeser tangannya ke arah kemaluan Juni, istriku mengangkat pinggul ketika jari Triadi menyelusup masuk ke vaginanya. Desahan Juni semakin kuat.

Karena birahi Juni sudah tinggi, Triadi membuka lebar paha istriku. Diarahkan rudalnya langsung ke terowongan itu. Istriku memejamkan mata penuh nikmat.

Kepalanya tidak bisa diam menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku yang terangsang kembali mengarahkan penisku ke mulut Juni. Kubiarkan dia bermain dengan penisku.

“AAAhhhhh,” tiba-tiba Juni menjerit. Juni mencapai orgaseme. Tidak berapa lama Triadi menghentikan genjotannya dan mengangkat penisnya. Ternyata dia juga sudah mencapai orgaseme, terlihat air manisnya menetes.

Juni menyedot penisku dengan kuat. Aku pun juga keluar. Kami semua merasa lemas. Malam ini adalah petualangan gila dalam hidup kami.

Sejak itu kami beberapa kali melakukannya kembali. Pengalaman ini kubagi atas persetujuan kami semua.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Related posts